KERAJAAN DEMAK



Abstraksi Materi

Kesultanan Demak (1500-1568), berlokasi di Demak (Jawa Tengah), adalah kesultanan pertama dan terbesar di Pantai Utara Jawa. Kesultanan ini pelopor penyebaran agama Islam di Jawa dan Indonesia umumnya.

Kepemimpinan Kesultanan Demak antara lain :

ž  Raden Patah adalah pendiri dan sultan pertama dari kerajaan Demak yang memerintah tahun 1500-1518. Menurut kronik Cina, Raden Patah  pindah dari Surabaya ke Demak tahun 1475. Kemudian ia menaklukkan Semarang tahun 1477 sebagai bawahan Demak. Hal itu membuat Kung-ta-bu-mi di Majapahit resah. Namun, berkat bujukan Bong Swi Hoo (alias Sunan Ampel), Kung-ta-bu-mi bersedia mengakui Jin Bun sebagai anak, dan meresmikan kedudukannya sebagai bupati di Bing-to-lo atau Bintara. Dalam masa pemerintahan Raden Patah, Demak berhasil dalam berbagai bidang, diantaranya adalah perluasan dan pertahanan kerajaan, pengembangan islam dan pengamalannya, serta penerapan musyawarah dan kerja sama antara ulama dan umara .

ž  Adipati Unus terkenal sebagai panglima perang yang gagah berani dan pernah memimpin perlawanan terhadap Portugis di Malaka. Karena keberaniannya itulah ia mendapatkan julukan Pangeran Sabrang lor. Tahun 1512 giliran Samudra Pasai yang jatuh ke tangan Portugis. Maka tahun 1513 dikirim armada kecil, ekspedisi Jihad I yang mencoba mendesak masuk benteng Portugis di Malaka gagal dan balik kembali  ke tanah Jawa. Kegagalan ini karena kurang persiapan menjadi pelajaran berharga untuk membuat persiapan yang lebih baik, Maka direncanakanlah pembangunan armada besar sebanyak 375 kapal perang di tanah Gowa. Armada perang Islam siap berangkat dari pelabuhan Demak dengan mendapat pemberkatan dari Para Wali yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati. Armada perang yang sangat besar untuk ukuran dulu bahkan sekarang. Dipimpin langsung oleh Pati Unus bergelar Senapati Sarjawala yang telah menjadi Sultan Demak II. 

ž  Sultan Trenggono adalah Sultan Demak yang ketiga, beliau memerintah Demak dari tahun 1521-1546 M. Sultan Trenggono adalah putra Raden Patah pendiri Demak yang lahir dari permaisuri Ratu Asyikah putri Sunan Ampel. Pada tahun 1546 Sultan Trenggono menyerang Panarukan,   Situbondo yang saat itu dikuasai Blambangan. Sunan Gunung Jati membantu dengan mengirimkan gabungan prajurit Cirebon, Banten, dan Jayakarta sebanyak 7.000 orang yang dipimpin Fatahillah. Sultan Trenggana berjasa atas penyebaran Islam di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di bawah Sultan Trenggana, Demak mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya seperti merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran serta menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di sana (1527), Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527), Malang (1545), dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung timur pulau Jawa (1527, 1546). 

ž  Lokasi kerajaan Demak yang strategis untuk perdagangan nasional, karena menghubungkan perdagangan antara Indonesia bagian Barat dengan Indonesia bagian Timur, serta keadaan Majapahit yang sudah hancur, maka Demak berkembang sebagai kerajaan besar di pulau Jawa, dengan rajanya yang pertama yaitu Raden Patah. Ia bergelar Sultan Alam Akbar al-Fatah (1500-1518). Pada masa pemerintahannya, Demak memiliki peranan yang penting dalam rangka penyebaran agama Islam khususnya di pulau Jawa, karena Demak berhasil menggantikan peranan Malaka, setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis 1511.

Akhir Kerajaan Demak :
Sepeninggal Sultan Trenggono, di kerajaan Demak mulai timbul kekacauan yang disebabkan oleh perebutan kekuasaan antar keluarga, yaitu antara keluarga Trenggono dengan Sekar Sedo Lapen. Sepeninggal Trenggono, Prawoto atau putra dari Trenggono menggantikannya sebagai raja, namun menimbulkan ketidakpuasan pada diri Arya Penangsang dari Jipang ( Anak dari Sekar Sedo Lapen ) yang merasa berhak atas tahta Demak. Arya Penangsang kemudian membunuh Prawoto dan menguasai Demak. Tindakan Arya Penangsang tersebut ditentang oleh menantu Trenggono yang bernama Hadi Wijaya, yang berkuasa di Pajang. Akibatnya perang pun berlanjut antara Arya Penangsang dengan Hadi Wijaya dibantu oleh Ki Ageng Pemanahan. Arya Penangsang berhasil dibunuh oleh Sutawijaya ( anak angkat Hadi Wijaya ). Semenjak itulah pusat pemerintahan Demak dipindahkan ke Pajang, dengan rajanya Sultan Hadi Wijaya. Dengan demikian, Kejayaan kerajaan Demak berakhir dan statussnya kembali menjadi daerah kabupaten dibawah kekuasaan Pajang.

Komentar