Asal Usul Desa Wangandowo Kecamatan Bojong Kabupaten Pekalongan
Asal Usul Desa Wangandowo
Asal usul desa Wangandowo berawal dari Syeh Syamsudin atau biasa dikenal Ki Wangandowo membuka hutan atau membabat alas dan kemudian ia membuat saluran irigrasi dari Wonopringgo sampai ke Wangandowo yang melewati Wonokeri dan Sampeh.
Kemudian Syeh Syamsudin atau yang biasa dikenal Ki Wangandowo itu
bertemu dengan KI Supo dari Kerajaan mataram islam.Dan akhirnya
mereka berdua bersama-sama membuka hutan atau membabat alas.
Kyai Syeh Syamsudin kemudiam membuat pedang suwedang (pusaka). sedangkan Mpu
Supo merendam pedang suwedang tersebut di sebuah rawa sehingga
air rawa tersebut menjadi bau. Karena air rawa tersebut bau maka rawa
tersebut dinamakan dengan sebutan rawa mambu.
Di desa Wangandowo ada dua sungai atau wangan yang panjang. Yang
pertama Bendungan Sudi Kampir yang panjangnya kurang lebih 2500
meter. Sungai tersebut merupakan buatan manusia bukan karena alam
yang dibuat pada masa kerja paksa tahun 1939 yang pada saat itu
disebut dengan Sungai Baru. Yang kedua Sungai Sudi Kampir yang
panjangnya kurang lebih 2000 meter. Sungai itu merupakan sungai alam
yang tidak dibuat oleh manusia. Karena ada dua sungai yang
panjang-panjang maka desa ini dinamakan desa Wangandowo.
Di desa wangandowo ada enam pedukuhan yaitu dukuh sabrang, dukuh lor,
dukuh wetan, dukuh cokrah kampir, dukuh sabaran, dan dukuh ndeso.
Dinamakan dukuh sabrang dikarenakan pada zaman dahulu belum ada
jembatan. Masyarakatnya dalam beraktivitas harus menyebrang sungai
sehingga dareah tersebut dinamai dukuh sabrang.
Yang kedua dukuh lor karena letaknya berada disebelah utara. Sehingga
daerah tersebut disebut dukuh lor.
Dukuh wetan karena letak dukuhnya berada di sebelah timur sungai.
Sehingga daerah tersebut disebut dengan dukuh wetan.
Yang keempat adalah dukuh cokrah kampir yang pada zaman dahulu
dikenal atau disebut dengan sudi kampir karena pada zaman dahulu Syeh
Syamsudin dan Mpu Suto pada saat membuka hutan mampir dahulu ditempat
itu dan akhirnya ia memberi nama daerah tersebut dengan sebutan dukuh
sudi kampir. Tapi sekarang lebih dikenal dengan nama atau sebutan
dukuh cokrah kampir.
Yang kelima adalah duku ndeso. Pada zaman dahulu disebelah barat
kampir ada dukuh yang penduduknya atau sumber daya manusianya
rendah, maka dijadikan bahan ejekan orang-orangnya ndeso dan akhirnya
dukuh tersebut diberi nama dukuh ndeso.
Yang terakhir adalah dukuh sabaran. Awal mulanya ada dua orang yang
bernama Kyai Sabar dan Nyai Sabar. Mereka tinggal disebelah barat
bendungan sudi kampir. Pada suatu hari Kyai Sabar membuat pusaka.
Suatu saat ada penjajahan Belanda, kemudian mereka berniat untuk
mengambil pusaka Kyai Sabar. Tetapi sebelum itu Kyai Sabar telah
mengetahui bahwa Belanda akan mengambil atau mencuri pusaka yang ia
buat. Akhirnya Kyai Sabar bersama Nyai Sabar pindah ke sebelah timur
bendungan sudi kampir. Dahulu dukuh sabaran adalah hutan. Kemudian
ia membuka hutan atau membabat hutan tersebut dari belig sampai rumah
yang ditempati kadus dan memberi nama daerah tersebut sabaran.
Lalu Kyai Sabar hidup tenang didaerah tersebut. Tetapi tak lama
kemudian ada tentara Belanda yang mengetahui dimana Kyai Sabar dan
Nyai Sabar tinggal yang ingin mengambil pusaka Kyai Sabar.
Kyai Sabar pun membuat batas dukuh sabaran tersebut yaitu dari belig
sampai rumah yang sekarang ditempati kadus lalu kyai sabar
mengucapkan sumpah bahwa siapapun orang yang memiliki yang
kekuasaan dalam pemerintahan melewati belig ini akan turun pangkat
ataupun mati.
Komentar
Posting Komentar