Cerpen




Sahabat yang Hilang

Hari senin adalah hari yang sangat aku tunggu-tunggu.  Hari dimana awal aku kembali masuk sekolah.  Hari ini adalah awal aku memasuki kelas VIII. Jam menunjukkan pukul tujuh tepat, upacara bendera pun segera dilaksanakan. Kemudian pengumuman pembagian kelas. Setelah pengumuman pembagian kelas aku pun masuk kelas. Disini kelas ini tak ada teman yang aku kenal karena pembagian kelasnya secara acak, akupun berkenalan dengan Anti, Ela, dan yang lainnya.

“Hai siapa namamu? Aku Icha”, tanyaku pada Anti dan Ela sambil   berjabatan tangan.
“Aku Anti” jawab Anti.
Dan kemudian Ela menjawab “Aku Ela. Dulu kamu dari kelas tujuh apa?”.
“Tujuh C. Lha kamu sendiri? Ujarku.
“Aku dari tujuh A. Lha kamu An?” jawab Ela
“ Tujuh B” jawab Anti

Kami semakin akrab karena kami duduk berdekatan. Kamipun bersahabat. kami selalu bersama-sama, ketawa bareng, bercanda bareng, ke kantin bareng, ngobrol bareng,  les bareng, pulang bareng, ngerjain tugas bareng, ke koperasi bareng pokoknya serba bareng deh. Ekstrakulikuler pun sama.

Teet teet teeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet!!!!
Bel  istirahat pun berbunyi.
“ Ayo ke kantin?” ajak Anti
“ Ayo” jawabku
“Eh...tapi mau ke kantin yang mana?’ ujar Ela
“Biasa lha kantin 5” jawabku dan Anti kompak

Kamipun ke kantin bareng. Diperjalanan menuju ke kantin kami berjalan sambil ngobrol dan bercanda bareng.

Sesampainya di kantin. “Mau  jajan apaan nih? Tanyaku sambil duduk.
“Biasa dong mie ayam ” jawab Ela
“Mie ayam tiga,bu ” Icha memesan makanan
“Iya Neng tunggu dulu ya.” jawab ibu kantin.
“Eh...mau pesen minum apa?” tanya Icha.
“Aku es jeruk” jawabku
“Aku juga” ujar Ela
“Bu, es jeruk tiga ya”  Icha memesan minuman
“Iya. Mau pesan apa lagi?” tanya Ibu Kantin
“Udah itu aja.” Ujar Ela

Sambil menunggu pesan kami ngobrol.
” Eh...tadi kamu paham gak matematika” tanya Ela
“ Paham tapi ada juga yang gak paham” ujarku
“ Lha kamu gimana, An? Tanya Ela
“Paham sih, tapi ada yang masih bingung” jawab Anti
“ Gue terangin dong, biar paham seperti kalian” ujar Ela
“Siap bos” jawabku dan Anti serentak

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti hari kami makin kompak, saking kompaknya kami berempat seperti jarum dan benang, yang jika tanpa benang, jarum tak akan pernah bisa menjahit.
Suatu hari kami berjanji akan selalu bersahabat walaupun senang, sedih, ataupun susah. “Maukah kalian menjadi sahabatku?” tanya Anti kepada aku dan Ela. ”Kami mau. Apakah kamu juga mau bersahabat dengan kami.” jawabku dan Ela dengan kompak. “Pastinya dong. Janji!!!” ujar Anti sambil mengacungkan jari kelingkingnya. “Janji” jawabku dan Ela dengan mengacungkan jari kelingkingnya sambil berkata “Best Friend Forever” dengan kompak kemudian kamipun berpelukan.

Setahun lamanya kami berada di kelas VIII  kami selalu bersama-sama baik itu senang, sedih, ataupun susah. Kami tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ketika salah satu dari kami ada yang sedih kami selalu menghibur. Ketika ada salah satu dari kami yang sakit kami menjenguknya. Kami selalu tolong menolong ketika ada yang kesusahan.
Pagi itu Ela kebingungan ngerjain tugas.
“ Cha bantuin gue dong?”
“Bantuin apa?” jawabku.
“Ini lho gue gak paham dengan materi jelasin dong gimana cara ngerjainnya?” keluh  Ela.  Akupun bantu Ela yang sedang kesusahan ngerjain tugas.

Setelah satu tahun kami berada di kelas VIII, kami pun naik ke kelas IX.  Hari ini adalah pembagian kelas. Setelah pembagian kami merasa sedih karena kami berbeda kelas. Aku kelas IX B, Ela kelas IX C sedangkan Anti kelas IX F. Dan kami pun tak pernah menyangkah bahwa kami akan berbeda kelas.

 “Mengapa kita berbeda kelas ya? Tanya Ela . “Iya, ya pada aku ingin sekali selalu bersama dengan kalian tapi apa, kita beda kelas” jawabku. “Aku juga ingin selalu bersama dengan kalian” ujar Anti.
          Sebelum kami masuk ke kelas masing-masing kami berjanji kami akan tetap bersahabat, selalu kompak, dan selalu bersama seperti berangkat dan pulang sekolah bareng, walaupun kami berbeda kelas.
          “Kami berjanji kami akan tetap bersahabat, selalu bersama, dan selalu kompak walaupun kami berbeda kelas”  janji kami sambil mengacungkan kelingking kamipun berpelukan dan menangis terharu.
          Beberapa hari kemudian semuanya pun berubah. “Anti ayo pulang”, ajakku “kamu pualng dulu pulang aja soalnya ada tugas nih yang belum jadi” jawabnya.
Akupun ke kelas Ela dan mengajak Ela pulang tapi dia lagi sibuk dengan teman barunya. Akupun pulang sendiri. Aku merasa kecewa karena mereka telah menghianati janjinya dan lupa dengan persahabatnya waktu kelas VIII.
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, dan hari berganti hari kami semakin lama semakin menjauh. Entah kenapa meraka menjauh. Apakah mereka lupa akan persahabatan kita. Hingga akhirnya persahabatan kami lenyap.
Aku gak pernah menyangka kalau akhirnya jadi begini. YA AllAH! aku ingin sekali dipersatukan dengan sahabat-sahabatku lagi. Aku kangen mereka, aku kangen semua... Aku selalu berdo’a agar Allah persatukan kami lagi dan agar Allah pertemukan kami lagi. Aku selalu menangis jika teringat sahabatku disana.... Aku menginginkan semua kenangan kami, kami selalu canda dan tertawa bersama... Kami melewati teriknya matahari, melawan derasnya hujan, dan bersinar terang saat kami bersatu.
          Kini semuanya telah hilang, semuanya telah lenyap karena waktu, aku merindukan masa-masa bersama kalian wahai sahabatku dan hanyalah kenangan-kenangan bersama mereka yang teringat, kenangan yang  tak mudah aku lupakan begitu saja. Aku teringat bagaimana mereka selalu berada disamping aku saat senang, sedih, ataupun susah karena mereka selalu mengerti bagaimana membuatku senang, tersenyum, dan membuatku ketawa.


Komentar